June 04, 2020

Dilarang Tinggalkan Liverpool, Jerzy Dudek Pernah Ingin Pukul Rafa Benitez

Mantan kiper Jerzy Dudek mengungkapkan bahwa ia memiliki keinginan hengkang di akhir periodenya bersama Liverpool dan bahkan sempat mempertimbangkan untuk meninju manajer Rafa Benitez karena menghalangi niatannya.

Dudek adalah pahlawan The Reds ketika membawa timnya meraih comeback dramatis di final Liga Champions 2005 melawan AC Milan, dengan tim yang ia bela akhirnya menang lewat drama adu penalti.

Akan tetapi, dua musim terakhirnya di Inggris lebih sering dihabiskan di bangku cadangan sebagaimana Pepe Reina mengambil alih posisi No. 1, dan ia hanya tampil 12 kali sebelum pindah ke Real Madrid pada 2007.

Dan kiper asal Polandia itu mengakui bahwa rasa frustrasi akibat dicadangkan hampir membuatnya kehilangan kontrol diri dan sempat terpikir untuk memukul manajernya tersebut.

“Pepe adalah kiper yang hebat, tetapi Rafa telah memilih untuk mendatangkan kiper baru di saat saya merasa tengah berada di puncak karier,” kata Dudek kepada FourFourTwo.

“Saya memberi tahu Rafa bahwa Piala Dunia [2006] ada di depan mata dan saya perlu bermain. FC Koln tertarik, tetapi beberapa hari sebelum jendela ditutup, mereka menelepon dan berkata, ‘Mengapa Rafa tidak berbicara dengan kami?’

“Saya terkejut – saya pikir semuanya telah disetujui.

“Hari berikutnya, saya menghampirinya setelah sesi latihan. Dia berkata, ‘Mereka hanya menawarkan kesepakatan pinjaman, dan Anda terlalu penting bagi kami. Mereka ingin memberi kami £800.000, tetapi bagaimana jika Reina mengalami cedera? Saya tidak bisa memasukkan £800.000 ke dalam koper dan meletakkannya di antara tiang gawang.’

“Kemudian saya punya pikiran gila ini – ‘Saya berpikir untuk meninju wajahnya’. Bisikan jahat di kepalaku memberitahuku bahwa jika saya memukul Rafa, mereka akan membiarkanku pergi ke Koln.”

Meski memiliki rasa pahit saat akhirnya meninggalkan Liverpool, Dudek – yang pensiun pada akhir musim 2010/11 saat di Madrid – tetap mengenang kariernya bersama tim Merseyside Merah.

“Hari ini dengan menengok ke belakang, saya lebih menghargai bahwa saya pernah bermain untuk klub bersejarah seperti Liverpool,” tambahnya.

“Tahun lalu, saya pergi ke Madrid bersama putra saya dan menyaksikan Liverpool memenangkan Liga Champions lagi.

“Sebagai pemain, saya tidak pernah mengerti mengapa para suporter menangis setelah kemenangan penting seperti itu – tetapi ketika saya melihat para pemain berlarian dengan piala di tangan mereka, saya meneteskan air mata.

“Saya semakin paham tentang cinta yang masih saya dapatkan dari penggemar The Reds.”