Tak Ada Tangis Ketika Klopp Meninggalkan Dortmund
Jurgen Klopp adalah tipe pelatih yang bisa membuat semua pemain ‘merasa penting’, dijelaskan Mitch Langerak yang menyebut keputusan sang juru taktik bergabung Liverpool pada 2015 ‘sangat mengejutkan’.
Setelah tujuh tahun dengan dua gelar Bundesliga Jerman dan satu trofi Liga Champions, Klopp berpisah dengan BVB. Ketika itu sang juru taktik merasa butuh tantangan baru dan jatuh ke pelukan the Reds pada Oktober.
Langerak adalah salah satu orang yang ditinggalkan Klopp di Jerman dan kiper Australia ini punya sejumlah kenangan indah bekerja di bawah arahan Klopp.
“Sebelumnya saya tidak tahu banyak tentang Klopp, tetapi agen saya mengatakan dia bakal menjadi pelatih besar dan semua orang mencintainya,” ujarnya pada Goal dan SPOX.
“Ketika kami bertemu, dia mengatakan: ‘Tidak peduli apakah kamu tampil jelek atau melakukan kesalahan. Selama kamu bekerja dan berlatih keras, kamu tidak akan punya masalah dengan saya’. Kata-kata itu masih saya ingat hingga sekarang dan begitulah awal petualangan saya di Jerman.”
Diminta lebih jauh tentang keistimewaan Klopp, Langerak menambahkan: “Ini soal bagaimana cara dia berkomunikasi dengan para pemain; dia membuat semua orang merasa penting.”
“Dia membahas keseharian dan hal-hal lainnya. Ketika itu kami adalah salah satu tim terbaik di dunia dan hanya 14 pemain yang bisa bermain, sisa lainnya menanti kesempatan tampil.”
Klopp kemudian meraih sukses di Inggris bersama Liverpool dengan mengangkat trofi Liga Champions dan Liga Primer Inggris.
Langerak tidak terkejut dengan kesuksesan tersebut, namun Dortmund sempat terguncang ketika mengetahui sang pelatih bakal pergi.
“Sangat mengejutkan, kami tidak menduganya,” lanjut Langerak tentang keputusan Klopp.
“Saya ingat, ketika itu berada di rumah menonton berita. Ketika itu terasa sulit karena pelatih terbaik di dunia akan meninggalkan salah satu klub terbaik dunia.”
“Kami berutang pada Klopp atas yang telah dilakukannya pada karier kami. Tetapi ini sepakbola dan kami berada di lingkungan profesional, jadi tidak satupun yang datang berlatih dan menangis.”